Sidoarjo.Terasdelta – Industri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pengolahan ikan bandeng khas Sidoarjo kini tengah menghadapi tantangan berat. Penjualan salah satu produk unggulan, yakni Bandeng asap mengalami penurunan signifikan akibat melemahnya daya beli masyarakat serta kenaikan harga bahan baku yang melonjak drastis.
Sulaihan, salah satu perajin bandeng presto asal Kalanganyar sedati Sidoarjo mengungkapkan bahwa kondisi pasar saat ini sedang tidak menentu. Pembelian dari konsumen penikmat bandeng asap yang biasanya ramai, kini cenderung tersendat.
"Untuk penjualan bandeng asap memang agak di luar kebiasaannya, jadi agak tersendat untuk pembeliannya. Yang paling banyak dicari sekarang justru otak-otak sama bandeng presto," ujar Sulaihan saat ditemui di Centra Bandeng Maharani.Senin (18/5/2026).
Menurutnya, bandeng presto dan otak-otak lebih diminati karena harganya yang lebih ekonomis dan lebih menjangkau pasar lokal (masyarakat sekitar). Sementara itu, bandeng asap umumnya dibeli sebagai oleh-oleh khas oleh pelancong dari luar kota seperti Jakarta, Yogyakarta, maupun luar pulau.
Penurunan omzet ini dirasakan sangat memukul para pelaku usaha. Sulaihan menceritakan bahwa dalam kondisi normal, ia mampu melakukan proses produksi bandeng asap hingga empat kali dalam sebulan. Setiap kali proses, volume bandeng yang diolah bisa mencapai 45 hingga 50 ekor.
Namun sekarang, aktivitas produksi menyusut tajam hingga hanya tersisa satu kali saja dalam sebulan. Ia menjelaskan ada dua faktor utama yang memicu kemunduran mulai Penurunan Daya Beli Masyarakat danLonjakan Biaya produksi.
Kenaikan harga bandeng segar di Sidoarjo dipengaruhi oleh menyusutnya lahan tambak akibat terdampak bencana rob dan masalah lingkungan lainnya, yang secara langsung memukul produktivitas petambak lokal.
Di sisi lain, harga jual bandeng asap berukuran besar yang mencapai Rp60.000 per ekor dinilai terlalu tinggi bagi sebagian masyarakat di tengah situasi ekonomi saat ini. Konsumen lebih memilih bandeng presto yang harganya berkisar antara Rp30.000 hingga Rp35.000 karena dinilai lebih ekonomis.
"Dengan uang segitu, mereka bisa dapat dua sampai tiga ekor bandeng presto," tambahnya.
Kondisi ini kian menantang seiring bertambahnya jumlah perajin olahan bandeng di Sidoarjo yang kini diperkirakan mencapai 50 hingga 60 orang. Meski masing-masing memiliki segmentasi ukuran pasar sendiri,dimana perajin lain banyak bermain di ukuran di bawah 3 ons secara umum seluruh pelaku UMKM bandeng merasakan keluhan yang sama terkait penurunan omzet global ini.
Selain persoalan bahan baku, melonjaknya biaya administrasi di platform digital (marketplace) membuat omzet penjualan daring menurun drastis.
Ia menjelaskan bahwa segmentasi pasar produknya berbeda dengan kompetitor lain yang menggunakan ukuran bandeng lebih kecil (di bawah 3 ons) untuk keperluan acara massal atau hajatan. Salah satu faktor pembeda utama terletak pada kualitas kemasan (packaging).
"Kemasan saya memang agak mahal karena menggunakan lapisan doff kualitas premium. Biaya kemasan kami bisa mencapai Rp2.500 per boks, sedangkan yang lain mungkin hanya Rp1.000 hingga Rp1.500. Dari sisi kemasan saja selisihnya sudah cukup besar," ujar Sulaihan.
Sulaihan menambahkan, lesunya daya beli tidak hanya dirasakan pada penjualan konvensional, tetapi juga merambah ke ranah digital. Penjualan melalui platform online yang sempat menjadi primadona kini mengalami penurunan yang cukup tajam, bahkan terkadang tidak ada transaksi sama sekali.
Menurutnya, hal ini disebabkan oleh tingginya biaya atau fee yang dibebankan oleh penyedia platform online kepada para penjual.
"Pemasaran lewat online sekarang turun tajam, bahkan kadang tidak ada sama sekali. Kita sulit bersaing karena harga jual terpaksa naik akibat tingginya biaya yang dikenakan oleh media online tersebut," keluhnya.
Menyikapi kondisi ini, Sulaihan menaruh harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Sidoarjo untuk turun tangan membantu stabilitas perputaran ekonomi sektor perikanan lokal, khususnya komoditas bandeng. Ia meminta agar promosi produk bandeng Sidoarjo lebih digalakkan oleh pemerintah daerah melalui kegiatan pameran yang potensial.
Namun, ia juga memberikan catatan kritis agar pelibatan pelaku UMKM dalam pameran tersebut dilakukan secara merata dan adil.
"Harapan kami, pemerintah daerah mau mempromosikan produk ini secara luas. Tolong teman-teman yang memiliki potensi diajak ikut pameran yang potensial. Jangan hanya orang-orang tertentu saja yang dilibatkan secara terus-menerus. Pelaku usaha yang punya potensi harus terus didampingi," tutupnya.(Mec).
