Notification

×

Iklan

Iklan

Mendung Sampah di Sidoarjo dan Jalan Sunyi Ainul Zurroh Menuju Zero to Landfill.

Rabu, 02 September 2026 | September 02, 2026 WIB Last Updated 2026-09-02T13:58:15Z



‎Sidoarjo.Terasdelta — Bau menyengat dan tumpukan limbah tak lagi menjadi hal asing bagi Ainul Zurroh warga Dsn. Guyangan RT 16 RW 08 ds. Wonomlati Kecamatan Krembung Kabupaten Sidoarjo. Namun, di tengah kepungan gunungan sampah industri yang saban hari terus membanjiri wilayah Jawa Timur, perempuan lulusan teknik ini memilih tidak sekadar berpangku tangan.

‎Dari sebuah sudut desa kecil di Krembung, Sidoarjo, ia merajut asa lewat sebuah mimpi besar: menghentikan laju sampah agar tak lagi membebani daratan.

‎Kisah itu bermula belasan tahun lalu. Pada 2013, langkah kaki Ainul membawanya mengunjungi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Griyo Mulyo Jabon, Sidoarjo. Di sana, ia menyaksikan pemandangan yang membekas kuat di ingatannya: ribuan ton sampah yang ditumpuk begitu saja tanpa pengolahan berkelanjutan sebuah praktik open dumping yang menjadi bom waktu bagi lingkungan sekitar.

‎"TPA saat ini sudah sangat penuh dan overcapacity. Kalau setiap hari kita terus mengeluhkan dan mengirim residu ke sana, TPA tidak akan mampu," kenang Ainul saat ditemui di lokasi pengolahan sampah miliknya, Rabu (3/9/2026).

‎Keprihatinan mendalam itulah yang mendorong Ainul mendirikan CV National Public Needs pada 2018. Berlokasi di Dusun Guyangan, Desa Wonomlati, Kecamatan Krembung, ia membangun fasilitas pengolahan sampah mandiri dengan bermodalkan dana pribadi. Ia mengusung konsep Zero to Landfill, sebuah skema pengolahan yang memastikan tidak ada lagi sisa sampah industri yang berakhir menggunung di TPA.

‎Setiap hari, truk-truk pengangkut hilir mudik membawa 18 hingga 20 ton sampah dari berbagai pabrik dan perusahaan di kawasan Sidoarjo, Surabaya, hingga Pasuruan. Di tangan Ainul dan sekitar 25 karyawan tetapnya, limbah-limbah yang mulanya tak dilirik itu diolah secara sistematis melalui tiga tahapan utama:

‎* Pemilahan Utama: Sampah yang masuk disortir ketat untuk memisahkan material bernilai ekonomi yang masih bisa didaur ulang atau dijual kembali.

‎* Pemilahan Residu: Residu yang tersisa dibersihkan dari pengotor keras seperti batu, kerikil, dan besi agar tak merusak komponen mesin pemroses.

‎* Pencacahan dan Pengempaan (Press): Sampah residu yang telah bersih dicacah hingga ukuran tertentu, lalu dipres menjadi Refuse Derived Fuel (RDF) sebuah bahan bakar alternatif berkalori tinggi pengganti batu bara.


‎Lewat proses terpadu ini, fasilitas tersebut mampu memproduksi hingga 5 ton RDF per hari, mengubah ancaman pencemaran menjadi sumber energi baru yang bermanfaat bagi industri.

‎Pengorbanan di Jalan Usaha Sosial
‎Menjalankan operasional pengolahan sampah mandiri bertahun-tahun tanpa kucuran APBD atau bantuan finansial pemerintah jelas bukan perkara mudah. Bagi Ainul, inisiatif ini kerap terasa seperti perjuangan sepi tanpa tepuk tangan.

‎"Usaha ini lebih tepat disebut sebagai usaha sosial. Pengeluaran materi dan tenaga jauh lebih besar dibandingkan keuntungan finansial yang didapat. Namun saya tetap positif dan bersemangat agar target Zero to Landfill bisa tercapai," tegas Ainul penuh optimisme.

‎‎Bagi Ainul, persoalan limbah bukan hanya tentang mencari keuntungan teknis atau angka-angka statistik, melainkan tanggung jawab moral terhadap masa depan lingkungan. Namun, ia menyadari sepenuhnya bahwa gerakan swadaya seperti ini memiliki keterbatasan jika berjalan sendirian.

‎Kini, di tengah gunungan residu yang berhasil diubahnya menjadi manfaat, Ainul menaruh harapan besar pada lahirnya kolaborasi yang lebih luas. Sinergi nyata antara regulasi pemerintah, komitmen dunia industri, dan kesadaran masyarakat menjadi kunci mutlak agar krisis sampah di Jawa Timur tak lagi menjadi benang kusut yang tak terurai.(Mec).

×
Berita Terbaru Update