Kepala MTs YPM 1 Wonoayu, Sidoarjo, Suhardi, M.Pd., saat memberikan keterangan pers kepada wartawan, Sabtu (6/6/2026).
Terasdelta.com — Isak haru mewarnai acara tasyakuran dan pelepasan siswa kelas 9 MTs YPM 1 Wonoayu, Sidoarjo. Dalam momentum pelepasan tersebut, Kepala Madrasah menyampaikan pesan mendalam yang menitikberatkan pada pembentukan karakter kejujuran siswa, sekaligus ungkapan rasa kehilangan dari para guru yang akan segera merindukan kehadiran anak didiknya.
Kepala MTs YPM 1 Wonoayu, Sidoarjo, Suhardi, M.Pd., mengungkapkan bahwa selama tiga tahun mengecap pendidikan di YPM, siswa tidak hanya dibekali dengan ilmu umum seperti matematika, IPA, atau bahasa Indonesia. Lebih dari itu, mereka ditempa untuk menjadi manusia yang berkarakter, salah satunya melalui program kantin dan koperasi kejujuran.
"Anak-anak bisa membeli, mengambil jajan sendiri, membayar sendiri, mengambil susuk (kembalian) sendiri. Kita latih kejujuran mereka dan alhamdulillah berhasil. Saat saya tanya pengurusnya, koperasi kita punya laba dan saldo banyak. Ini artinya nilai kejujuran sudah tertanam kuat di hati anak-anak," ujarnya dengan bangga, Sabtu (6/6/2026).
Selain kejujuran, madrasah juga konsisten menanamkan rasa tanggung jawab, kemandirian lewat simulasi wirausaha, serta karakter religius yang kuat sebagai fondasi utama sekolah YPM. Hal ini selaras dengan hadis Nabi, Man yuridillahu bihi khairan yufaqqihhu fiddin (Barang siapa yang dikehendaki Allah menjadi orang baik, maka akan difahamkan ia dalam urusan agama).
Kepada para siswa yang bersiap melangkah ke jenjang SMA, SMK, maupun pondok pesantren, Kepala Madrasah menitipkan pesan emosional agar mereka tidak melupakan madrasah yang telah menjadi saksi bisu perjuangan mereka.
"Jika suatu hari nanti kalian lelah, ingatlah kalian pernah berjuang di sini. Jika kalian gagal, ingatlah kalian pernah bangkit setelah jatuh. Dan jika suatu hari nanti kalian rindu, pulanglah. Berjalanlah di lorong-lorong kelas, duduk sebentar, temui kami, dan ceritakan mimpi-mimpi yang sedang kalian perjuangkan," tuturnya disambut suasana hening penuh haru.
Suhardi menambahkan bahwa keputusan melepas kelulusan ini didasari atas rasa cinta yang besar, agar "sayap" para siswa yang kini sudah kuat bisa mengepak dan terbang setinggi langit impian mereka.
Tidak dapat dimungkiri, kepergian siswa kelas 9 menyisakan ruang kosong di hati para pendidik. Suasana berubah semakin syahdu saat Kepala Madrasah mengakui bahwa setelah hari ini, koridor sekolah akan terasa sunyi tanpa riuh rendah aktivitas siswa.
"Besok tidak ada lagi siswa kelas 9 yang duduk di ruang kelas. Tidak ada lagi yang berlari-lari sambil berpamitan, 'Ustaz, Ustazah, ana ilal hammam'. Pasti kami, Bapak dan Ibu Guru, merasa kesepian," ungkapnya.
Sebagai penutup momen perpisahan dan bentuk ekspresi rasa kehilangan tersebut, seluruh guru dan siswa kemudian bersama-sama menyanyikan lagu berjudul “Kesepian” yang diiringi musik, mengunci momen pelepasan itu menjadi sebuah kenangan yang tidak akan mudah terlupakan.
Di akhir sambutan, pihak madrasah secara resmi mengembalikan putra-putri tersebut kepada para wali murid, sembari memohon maaf atas segala kekurangan selama proses mendidik, dan menitipkan pesan agar nilai-nilai kebaikan yang telah diajarkan tetap dijaga di mana pun mereka berada. (Sam Arif).
