Sidoarjo.Terasdelta - Ribuan Warga NU di Kabupaten Sidoarjo mengikuti Mujahadah dan Apel Kader di Makam KH.Anas Al Ayyubi di area titik 25 Lumpur lapindo.Ahad ( 15/2/26 ).
Dalam apel kader ini diikuti sebanyak 5.000 kader militan Nahdlatul Ulama mulai jajaran pengurus mulai tingkat Cabang, MWCNU, ranting, badan otonom (Banom), hingga lembaga-lembaga NU se-Kabupaten Sidoarjo. Turut hadir Rois Syuriah PCNU Sidoarjo KH.Abdusslam Mujib, Bupati Sidoarjo Subandi,Forkopimda Sidoarjo dan Wakil Ketua PWNU Jawa Timur KH.Ahmad Hakim Jayli sebagai inspektur Apel Akbar.
Kegiatan bertajuk “Mujahadah dan Apel Kader” itu menjadi simbol penguatan spiritual sekaligus penegasan komitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Ribuan peserta yang mengenakan atribut putih dan hijau tampak khidmat mengikuti rangkaian doa, istighotsah, dan apel bersama di area yang menjadi saksi tragedi nasional tersebut. Kegiatan apel Akbar ini juga memberikan 200 beasiswa kepada para pelajar maarif NU.
Wakil Ketua PWNU Jawa Timur, KH
Ahmad Hakim Jayli, dalam orasinya menekankan pentingnya adaptasi NU di tengah perubahan zaman. Ia menyebut tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia” sebagai peta jalan kader NU agar mampu tampil di panggung global.
“NU hari ini tidak hanya bicara soal lokal Sidoarjo atau Jawa Timur, tetapi bagaimana nilai-nilai Aswaja An-Nahdliyah menjadi solusi bagi perdamaian dan peradaban dunia. Kader harus cerdas, melek teknologi, namun tetap tunduk pada dawuh kiai,” tegasnya, disambut takbir para peserta.
Melalui momentum ini, "PCNU Sidoarjo berharap semangat Satu Abad NU terus menggelora, memperkuat barisan kader yang religius, nasionalis, dan adaptif terhadap perkembangan zaman, dengan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam moderat dan toleran demi kontribusi nyata bagi peradaban dunia,"pungkasnya.
Bupati Sidoarjo Subandi Dalam sambutannya,menyampaikan apresiasi atas peran strategis kader NU dalam menjaga kondusivitas daerah dan mendukung pembangunan.
“Kader NU Sidoarjo harus menjadi garda terdepan dalam menjaga ukhuwah islamiyah dan ukhuwah wathaniyah. Dengan semangat harlah ini, kita perkuat sinergi antara pemerintah daerah dan ulama demi kesejahteraan masyarakat Sidoarjo,” ujarnya.
Subandi juga menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung penguatan lembaga pendidikan pesantren. Ia memerintahkan pembentukan satuan tugas (satgas) perizinan pendidikan dan pesantren untuk memastikan legalitas lembaga pendidikan di setiap kecamatan.
“Kita perintahkan membentuk satgas perizinan pendidikan dan pesantren. Nanti kita lihat di setiap kecamatan yang sekolahnya belum ada izin, maka wajib kita tertibkan. Pemerintah daerah akan terus memberikan support. Kemarin Kabupaten Sidoarjo telah memberikan hibah kurang lebih Rp.21miliar demi kekokohan NU di Kabupaten Sidoarjo,” tegasnya.
Ketua Panitia harlah NU, Isa Hasanuddin, menjelaskan bahwa pemilihan lokasi di kawasan lumpur bukan tanpa makna.“Kegiatan ini dimulai sejak semalam dengan mujahadah di dua masjid sekitar lokasi lumpur Lapindo. Pagi harinya, setelah salat Subuh berjamaah, kami bergerak menuju tanggul lumpur, tepatnya di depan Makbaroh KH Anas Al-Ayyubi,” ujarnya.
Menurut Isa, kawasan tersebut menjadi ruang refleksi atas ujian besar yang pernah menimpa masyarakat Sidoarjo sekaligus pengingat bahwa setiap musibah menyimpan hikmah. Di area itu juga terdapat makam almarhum KH Anas Al-Ayyubi, Rais Syuriyah PCNU Sidoarjo terdahulu yang dikenal berperan besar dalam penguatan organisasi di tingkat cabang.
“Kami ingin kader NU di Sidoarjo terus memberikan penghormatan dan meneladani perjuangan beliau. Lokasi lumpur ini telah menjadi perhatian nasional bahkan internasional. Melalui kegiatan ini, kami bersyukur bahwa setiap ujian dari Allah SWT pasti membawa hikmah,” tambahnya.
Isa menegaskan, apel kader ini bertujuan memperkuat militansi warga NU dalam menjaga paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) serta meneguhkan komitmen terhadap keutuhan NKRI.
“Ini komitmen mendasar bagi NU. Kami memperkuat barisan untuk memastikan nilai-nilai Aswaja tetap tegak di bumi nusantara,” tegasnya.
Ia juga menyoroti sistem kaderisasi di tubuh NU yang berjalan berkelanjutan melalui berbagai Banom sesuai jenjang usia dan profesi. Regenerasi kepemimpinan disebutnya berlangsung dinamis dan terstruktur.
“Kaderisasi di NU tidak pernah putus. Yang hari ini di Ansor akan menjadi pemimpin NU di masa depan, yang hari ini di Fatayat akan menjadi pemimpin Muslimat. Semua berjalan berkesinambungan sesuai bakat dan profesinya masing-masing,” pungkas Isa.( Mec ).
