Sidoarjo.Terasdelta – Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Sukodono, Sidoarjo, menggelar Konferensi ke-XII dengan Mengusung tema "Memperkuat Sinergitas Organisasi Menuju Kejayaan",di gedung lantai 2 MWCNU Sukodono. Ahad (26/4/2026). konferensi ini menjadi momentum penting bagi NU di wilayah Sukodono untuk merumuskan langkah strategis di masa khidmat 2026-2031.
Ketua Panitia, H.Sholeh Syarifuddin, menyampaikan bahwa konferensi kali ini tetap menggunakan acuan tata tertib (tatib) yang lama dengan sedikit penyesuaian. Pemilihan tema tersebut didasari oleh semangat memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama, di mana organisasi diharapkan dapat tampil lebih maju dan berjaya.
"Harapan kami melalui konferensi ini, tercipta kondisi yang damai, aman, dan tenteram. Yang terpenting, seluruh rangkaian acara dapat terlaksana sesuai aturan AD/ART Nahdlatul Ulama," ujarnya.
Konferensi ini dihadiri oleh peserta mulai unsur Rois Syuriah maupun Tanfidziah dari 19 seluruh ranting NU se MWCNU Sukodono. Selain peserta inti, panitia juga mengundang berbagai tokoh masyarakat, tokoh wilayah mulai PCNU Sidoarjo,Forkopimka Sukodono, Anggota DPRD provinsi Jatim, Anggota DPRD Kabupaten Sidoarjo,Banom NU,Lembaga NU dan KH.Abdul Azis Munif pengasuh Ponpes Bahrul Hidayah.
Salah satu agenda utama dalam konferensi ini adalah pemilihan nakhoda baru untuk masa khidmat lima tahun ke depan. Panitia menegaskan bahwa proses pemilihan akan dilakukan secara demokratis dengan mengikuti aturan dan prosedur yang telah ditetapkan dalam organisasi.
"Siapapun nanti yang terpilih, kami pastikan prosesnya mengikuti AD/ART yang berlaku. Kami berupaya agar hasil dari konferensi ini membawa manfaat besar bagi umat, khususnya di wilayah Sukodono," pungkasnya.
Dalam konferensi MWCNU Sukodono ini akhirnya menghasilkan nakoda baru dalam lima tahun kedepan. KH.Mahmud Markatam dan Drs.H.Fathul Ibad kembali terpilih sebagai Rois Syuriah dan Tanfidziah masa Hidmat 2026-2031 secara aklamasi.
Drs.H.Fathul Ibad Ketua MWCNU Sukodono terpilih menyampaikan bahwa koordinasi antar lembaga selama ini telah berjalan dengan sangat baik. Pencapaian positif terlihat pada performa BMT (Baitul Maal wat Tamwil) yang terus menunjukkan tren stabil.
"Alhamdulillah, program di MWCNU Sukodono, mulai dari koordinasi hingga BMT, sudah berjalan dengan baik. Ke depan, kita akan lebih menggenjot lagi lembaga-lembaga yang sudah ada agar lebih giat," ujarnya.
Selain BMT, MWCNU Sidoarjo juga akan Fokus pada Sektor Pertanian dan Hukum, Meski beberapa sektor telah berjalan optimal, pengurus mencatat adanya perlunya akselerasi pada Lembaga Pertanian dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Kedua sektor ini dianggap vital untuk memberikan dampak langsung kepada warga Nahdliyin di wilayah Sukodono.
“Harapan kami, pengurus periode mendatang akan memajukan lembaga pertanian. Program-program lima tahun ke belakang yang sudah berjalan akan kita laksanakan kembali dengan lebih giat, terutama dari LDNU, LTM, LBH, dan BMTNU,” tambahnya.
Selain sektor ekonomi dan sosial, MWCNU Sukodono juga telah memetakan tiga program prioritas utama untuk lima tahun ke depan diantaranya Pengembangan BMTNU, Lembaga Dakwah (LDNU) dan Lembaga Takmir Masjid (LTMNU).
Dengan sinergi antar lembaga yang semakin kuat, MWCNU Sukodono optimis dapat menjadi organisasi yang lebih maju dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Sidoarjo di masa mendatang.
"Target kami, kepengurusan tahun 2026-2031 ini menjadikan MWCNU Sukodono jauh lebih maju dari pada periode yang lalu," pungkasnya.
Sementara itu, Ketua PCNU Sidoarjo, KH.Zainal Abidin, memberikan pesan mendalam bagi Rois Syuriah dan Tanfiziah MWCNU Sukodono terpilih, agar menekankan kunci keberhasilan dalam menjalankan organisasi adalah meluruskan niat sejak awal.
"Tata niatnya menjadi ketua atau menjadi pengurus di Nahdlatul Ulama. Jika niatnya sudah baik, insyaallah seluruh program-program baik dari PBNU, PWNU, maupun PCNU akan bisa dilaksanakan dengan baik dan tetap dalam naungan ma’unah Allah SWT," ujarnya.
Selain masalah niat, beliau juga menggarisbawahi peran strategis NU dalam masyarakat yang disebut sebagai Ri’ayatul Ummah atau pelayanan kepada umat. Menurutnya, pengurus NU memiliki kewajiban moral untuk hadir di tengah masyarakat melalui berbagai sektor kehidupan.
Beliau menambahkan bahwa segala upaya yang dilakukan oleh pengurus saat ini merupakan bentuk tanggung jawab untuk meneruskan semangat dan cita-cita para Muassis (pendiri) Nahdlatul Ulama.
"Memberikan pelayanan kepada umat sebagaimana cita-cita dari para Muassis menjadi kewajiban kita semua di NU," pungkasnya.
Semangat pengabdian ini diharapkan dapat menjadi stimulan bagi seluruh kader NU untuk terus berkhidmat demi kemaslahatan masyarakat luas.( Mec ).
