Dok. Sejumlah binaan saat silaturahmi di Pos Kefirmanan RASI Desa Kepunten, Tulangan, Sidoarjo (foto: ist).
Terasdelta.com – Jarum jam menunjukkan pukul 22.17 WIB ketika Mas Wadiono melangkahkan kaki memasuki Pos Kefirmanan Masyarakat Spiritual Indonesia (RASI) di Desa Kepunten, Tulangan, Sidoarjo, Kamis malam (16/4/2026). Tak lama berselang, langit tumpah. Hujan deras mengguyur kawasan tersebut hingga dini hari, namun di dalam ruangan kecil itu, dinginnya cuaca justru kalah oleh hangatnya persaudaraan.
Ditemani kepulan asap, kopi dan deretan piring berisi pisang goreng, biskuit, serta kue-kue sederhana, suasana diskusi mengalir begitu akrab. Malam itu bukan sekadar kumpul biasa, melainkan sebuah ruang refleksi untuk membasuh jiwa.
Kholid, Pembina RASI, membuka percakapan dengan nada yang menyentuh. Ia mengingatkan para warga yang hadir untuk tidak pernah putus dalam bersyukur. Baginya, ketenangan hati bermula dari kemampuan manusia menerima dan menjalani setiap ketetapan Allah SWT.
"Nikmat bernapas itu tidak bisa dihitung oleh rupiah," ujar Kholid lembut. "Berkaca dari pengalaman pandemi lalu, orang harus mengeluarkan uang banyak demi oksigen. Sementara saat ini, kita diberi kesehatan secara cuma-cuma. Itu adalah alasan kuat mengapa kita harus terus beribadah dan bersyukur."
Kholid kemudian berkisah tentang titik balik hidupnya. Perjalanannya bermula saat ia melangkah bersama sang kakak menuju Jati Selatan, Dusun Dukuh, Banjarbendo. Melalui pembinaan mental spiritual yang kini bernaung di bawah organisasi RASI, ia mengaku menemukan hidup yang baru.
"Dulu, kalau saya kesal atau mangkel sama orang, hati itu rasanya panas dan membekas lama sekali (jangget). Tapi sekarang, alhamdulillah, saya seperti tidak 'dimampukan' lagi untuk menyimpan benci," tuturnya dengan wajah teduh.
Ia merasakan ada perlindungan nyata dari Nur Kuasa Allah yang menyelimuti hatinya. Bukan hanya penyakit hati yang sirna, kesehatan fisik, ketenangan hati dan pikiran pun ia dapatkan. Hal inilah yang mendorongnya untuk terus berbagi manfaat kepada sesama.
Pos Kefirmanan RASI Desa Kepunten kini menjadi semacam oase. Meski jadwal rutin digelar setiap Minggu malam pukul 21.00 WIB, nyatanya warga dari berbagai daerah mulai dari Melati Kepunten Tulangan, Pilang, Ploso, Pager Ngumbuk Wonoayu, Jumputrejo, Klagen Wilayut Sukodono, Gedangan, Junwangi, Sidorejo Krian, hingga Tulungagung kerap datang di luar jadwal untuk bersilaturahmi dan berkonsultasi mengenai persoalan hidup.
Di akhir pertemuan, Kholid menitipkan pesan mendalam bagi seluruh binaan agar tetap semangat berjuang di jalan Tuhan dan peduli terhadap sesama. Hal itu sesuai yang diajarkan Rasulullah SAw, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.
Ia juga mengingatkan binaannya agar tidak takabur (sombong). Melainkan selalu rendah hati, beradab, serta mampu menerima, menjalani dan mensyukuri nikmat-Nya.
"Sejatinya manusia itu tidak bisa apa-apa tanpa izin-Nya. Maka jangan sombong. Siapa yang menyombongkan diri, tidak akan dimampukan oleh Allah SWT," pungkasnya saat hujan mulai mereda di pukul 01.50 WIB.
Pagi itu, warga pulang bukan hanya membawa perut yang kenyang oleh kopi dan pisang goreng, tetapi juga hati yang lebih lapang untuk menghadapi esok hari. (Sam Arif).
