Belajar Public Speaking bersama jurnalis televisi nasional, Moh. Kholidun, S.Pd., di Aula Ponpes Darul Muttaqin, Bendo Grogol, Tulangan, Sidoarjo, Selasa malam (12/5/2026). (Foto:ist).
Terasdelta.com - Puluhan santri Pondok Pesantren Darul Muttaqin, Bendo Grogol, Tulangan, Sidoarjo, mengikuti pelatihan public speaking pada Selasa malam (12/5/2026). Kegiatan yang menghadirkan jurnalis televisi nasional, Moh. Kholidun, S.Pd., sebagai pemateri ini bertujuan untuk memupuk rasa percaya diri santri sejak dini.
Para peserta yang berasal dari jenjang MI/SD, SMP, hingga SMK tampak sangat antusias mengikuti pelatihan perdana di pesantren tersebut. Mereka tidak hanya dibekali teori, tetapi juga langsung mempraktikkan cara memperkenalkan diri, menyebutkan usia, sekolah, hingga cita-cita di hadapan rekan-rekannya.
Dalam paparannya, Moh. Kholidun atau yang akrab disapa Kholid, menekankan bahwa berbicara di depan publik bukan sekadar soal keberanian, melainkan juga penguasaan intonasi dan kosakata agar informasi dapat diterima dengan jelas oleh audiens.
Ia memperkenalkan metode khusus bagi para santri, yakni Rumus 4S.
"Santri harus menguasai Senang, Sapa, Senyum, dan Semangat. Sebagai contoh saat menjadi MC, meski hati sedang sedih atau galau, harus tetap tampil menyenangkan agar audiens tidak merasakannya. Senyum diperlukan untuk mengurangi kegugupan, sedangkan sapaan dan semangat menunjukkan penghormatan serta rasa percaya diri yang kuat," jelas Kholid.
Ia juga menyarankan para santri untuk rutin berlatih di depan cermin sebagai cara efektif meningkatkan performa berbicara.
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Muttaqin, Ustadz M. Muttaqin, S.Pd., mengungkapkan bahwa pelatihan ini sudah direncanakan sejak lama. Ia menilai sosok pemateri dari kalangan jurnalis sangat tepat untuk memberikan edukasi langsung kepada anak-anak.
"Tujuan utamanya adalah membangun mental anak-anak agar berani tampil dan tidak malu. Santri harus percaya diri. Kami berharap ilmu public speaking ini dapat meningkatkan kualitas santri sehingga nantinya bermanfaat saat mereka terjun di tengah masyarakat," ujar Ustadz Muttaqin.
Ia menambahkan, melalui kegiatan ini pihak pesantren juga bisa mengevaluasi penggunaan kosakata yang lebih pantas, terutama saat santri bertugas sebagai pembawa acara (MC).
Manfaat pelatihan ini dirasakan langsung oleh salah satu peserta, Nur Fatimah Muttaqin. Ia mengaku mendapatkan banyak perspektif baru mengenai kekurangan yang selama ini ia miliki saat menjadi MC.
"Jujur saya merasa masih kurang, tapi dengan pelatihan ini saya sangat terbantu. Saya jadi tahu letak kesalahan saya selama ini, dan berharap ke depan bisa lebih percaya diri saat berada di depan umum," pungkas Fatimah. (Sam Arif).

