Sidoarjo.Terasdelta — Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gapura Desa Candi Negoro, Kecamatan Wonoayu, Sidoarjo, meluncurkan inovasi wisata edukasi berbasis pertanian modern (smart farming). Destinasi baru berupa wisata petik melon hidroponik langsung dari pohonnya ini secara resmi dibuka oleh Bupati Sidoarjo, H. Subandi, pada Sabtu (5/9/2026).
Wisata edukasi ini memanfaatkan lahan greenhouse seluas 400 meter persegi. Sebanyak 1.030 bibit melon varian unggulan, seperti Intanon dan Sakata, dibudidayakan secara intensif oleh para pemuda desa setempat.
Bupati Sidoarjo, H. Subandi, mengapresiasi tinggi terobosan yang dilakukan oleh BUMDes Gapura. Menurutnya, langkah ini menjadi simbol penguatan ketahanan pangan di tingkat desa sekaligus motor penggerak perekonomian masyarakat.
"Pemerintah Kabupaten Sidoarjo berkomitmen melakukan pengawalan dan siap mengucurkan bantuan bagi perkembangan BUMDes. Sebab, setiap desa di Sidoarjo memiliki keunikan dan potensi ekonomi yang berbeda-beda," ujar Subandi.
Subandi menekankan pentingnya pemanfaatan potensi lokal di setiap desa, baik di bidang budidaya tanaman, perikanan, maupun kuliner. Menurutnya, jika desa-desa mandiri dalam mengelola potensinya, ketahanan ekonomi daerah akan semakin kuat.
Saat meninjau greenhouse, Subandi bersama jajaran pejabat daerah sempat memetik dan mencicipi langsung melon varietas Intanon.
"Rasanya manis banget, beda dan lebih lezat dari melon pada umumnya," puji Subandi.
Ia menambahkan, konsep pertanian modern berbasis greenhouse ini menjadi solusi efektif menghadapi cuaca ekstrem yang sering mengancam petani konvensional. Dengan suhu dan kelembapan yang terkontrol, tanaman lebih aman dari serangan hama serta curah hujan tinggi.
"Kalau di sawah pas hujan sering gagal. Di sini lebih aman. Sekali tanam butuh waktu 70 hari untuk panen. Pendapatannya juga bagus, sekali panen bisa sampai Rp35 juta lebih. Desa-desa lain yang punya lahan kosong harus meniru langkah inovatif BUMDes ini," tegasnya.
Ketua BUMDes Gapura Candi Negoro, Ahmad Wildani Arifana, menjelaskan alasan pemilihan komoditas melon karena popularitasnya di semua kalangan. Untuk memaksimalkan hasil, pihaknya mengintegrasikan teknologi smart farming dalam sistem pertanian hidroponik.
Teknologi ini memudahkan pengelola memantau tumbuh kembang tanaman, mulai dari sistem perakaran hingga pembentukan buah secara otomatis.
"Pengelola tidak perlu lagi mengecek kondisi fisik tanaman secara manual setiap pagi dan sore. Pemantauan parameter krusial seperti suhu, pH air, dan kecukupan nutrisi dapat terpantau efisien melalui layar monitor," terang Wildani.
Metode ini menghasilkan melon kelas premium dengan tekstur daging buah yang lebih renyah, kadar kemanisan tinggi, serta bentuk yang lebih presisi dibandingkan hasil budidaya di lahan terbuka.
Untuk pemasarannya, BUMDes mengusung konsep wisata edukasi petik langsung dengan harga Rp30.000 per kilogram. Pada panen kali ini, omzet diperkirakan mencapai 1,5 ton dengan bobot tiap buah berkisar antara 1,2 kg hingga 2,6 kg.(Mec).
› Bisnis
› Budaya
› Budaya.
› Gaya Hidup
› Pemerintahan
› Pemerintahan.
› Pendidikan.
BUMDes Candinegoro Buka Wisata Petik Melon Premium, Bupati Sidoarjo Minta Desa Lain Meniru.
BUMDes Candinegoro Buka Wisata Petik Melon Premium, Bupati Sidoarjo Minta Desa Lain Meniru.
teras delta
Sabtu, 05 September 2026 | September 05, 2026 WIB
Last Updated
2026-09-05T11:44:36Z
