Sidoarjo.Terasdelta — Berawal dari kawasan pesantren di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, seorang alumni santri sukses membuktikan bahwa produk kerajinan lokal mampu bersaing di kancah nasional. Nurul Absori, alumni Pondok Pesantren Al Badriyah, kini memimpin "Istana Sepatu Kulit", sebuah unit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) asal Desa Tebel Timur, Kecamatan Gedangan, yang produknya telah menjangkau berbagai pulau di Indonesia.
Usaha ini dirintis Nurul sejak 2016 setelah melihat potensi besar kawasan tempatnya menimba ilmu agama, yang dahulunya dikelilingi oleh para pengrajin sepatu. Berbekal tekad kuat, ia mempelajari teknik pembuatan sepatu dari nol hingga berhasil mendirikan Istana Sepatu Kulit.
"Awal mula berdirinya usaha ini karena dulu di Tebel memang banyak pengusaha sepatu. Karena saya lama nyantri di salah satu pesantren di sini, potensi itu saya coba kembangkan," ujar Nurul saat berada di workshop Istana sepatu, Sabtu (26/9/2026).
Perjalanan usahanya semakin berkembang pesat setelah mendapat pendampingan dari Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Timur. Melalui berbagai pelatihan manajemen dan digital marketing, Istana Sepatu Kulit memperluas jangkauan pasarnya hingga ke Jakarta, Bekasi, bahkan menembus Sorong, Papua.
Produk yang dihasilkan pun bervariasi, mulai dari sepatu harian, seragam sekolah, kebutuhan instansi, hingga lini terbaru berupa safety shoes untuk kebutuhan industri.
Salah satu keunikan Istana Sepatu Kulit yang membedakannya dari produk lain adalah kombinasi bahan kulit asli dengan sentuhan kain atau motif rajutan. Inovasi ini tidak hanya memikat konsumen umum dan kalangan anak muda, tetapi juga menarik perhatian para pejabat daerah hingga tokoh masyarakat.
Sepatu buatan Nurul bahkan menjadi favorit para kiai di kawasan Gedangan serta dikenakan langsung oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa. Karena kualitasnya, Nurul kerap diajak serta dalam program Misi Dagang Pemprov Jatim untuk memperluas jaringan pasar antarprovinsi.
"Alhamdulillah hari Selasa, 29 September 2026, ini kami diajak Ibu Gubernur dalam Misi Dagang ke Sumatera Utara. Ini sudah ketiga kalinya kami diajak oleh beliau," ungkap Nurul.
Sebagai usaha skala home industry, Istana Sepatu Kulit saat ini didukung oleh 5 hingga 7 orang pekerja, dengan 5 orang di antaranya merupakan karyawan tetap. Nurul juga memberdayakan warga sekitar wilayah Gedangan untuk membantu proses operasional harian.
Dalam sehari, kapasitas produksi rumah usaha ini berkisar antara 20 hingga 30 pasang sepatu, atau sekitar 300 hingga 400 pasang per bulan.
Meskipun sempat terdampak pandemi COVID-19, usaha ini berhasil bangkit melalui efisiensi dan strategi pengadaan barang kerja sama dengan berbagai instansi serta perusahaan. Dengan harga produk kulit asli yang dibanderol mulai dari Rp185.000 per pasang, Istana Sepatu Kulit kini mencatatkan omset bulanan mencapai Rp60 juta hingga Rp80 juta.
Di samping mengurus bisnis persepatuan, Nurul Absori pemilik usaha juga aktif dalam kegiatan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah Gedangan. Produk sepatu dan sandal/selop buatan home industry ini bahkan banyak diminati dan digunakan oleh para kiai serta tokoh masyarakat setempat.
Melalui keikutsertaan dalam Misi Dagang Pemprov Jatim, Nurul berharap produk kerajinan sepatu kulit asli Sidoarjo dapat terus mengepakan sayap dan membuktikan kualitas terbaiknya di pasar nasional.(Mec).
› Bisnis
› Budaya
› Budaya.
› Pemerintahan.
› Pendidikan
› Religi.
Dari Santri Jadi Pengrajin Sepatu Kulit: Kisah Nurul Absori Bawa "Istana Sepatu Kulit" Menembus Pasar Nasional.
Dari Santri Jadi Pengrajin Sepatu Kulit: Kisah Nurul Absori Bawa "Istana Sepatu Kulit" Menembus Pasar Nasional.
teras delta
Sabtu, 26 September 2026 | September 26, 2026 WIB
Last Updated
2026-09-26T04:25:51Z
