Sidoarjo.Terasdelta — Kabupaten Sidoarjo resmi terpilih menjadi salah satu daerah percontohan dalam Proyek InCircular di Jawa Timur. Program ini digagas untuk mendukung Peta Jalan dan Rencana Aksi Nasional Ekonomi Sirkular Indonesia 2025–2045, dengan fokus pada penguatan pengelolaan sampah, khususnya kemasan dan residu.
Peluncuran program bertajuk "Dari Daerah, Menuju Masa Depan Ekonomi Sirkular Indonesia" tersebut digelar di Hotel DoubleTree by Hilton, Surabaya, pada Selasa (15/9/2026). Acara diselenggarakan oleh Kementerian PPN/Bappenas bersama Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ GmbH) dan Pemprov Jawa Timur, dengan dukungan pendanaan dari Kementerian Federal Jerman untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ).
Selain Sidoarjo, terdapat empat daerah lain di Jawa Timur yang terpilih sebagai percontohan, yaitu Kabupaten Gresik, Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Probolinggo.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyampaikan bahwa proyek ini menjadi peluang strategis untuk mengatasi masalah sampah di Jawa Timur. Saat ini, timbulan sampah di Jawa Timur mencapai sekitar 6,5 juta ton per tahun, namun baru sekitar 25 persen yang terkelola secara optimal.
"Melalui ekonomi sirkular, kita mendorong penggunaan sumber daya secara lebih efisien, mengurangi timbulan sampah sejak dari sumber, serta memperkuat pemanfaatan kembali dan daur ulang," ujar Emil.
Bupati Sidoarjo, H. Subandi, yang hadir didampingi Bappeda dan DLHK Sidoarjo, menyambut positif penunjukan ini. Menurutnya, langkah ini sejalan dengan komitmen Pemkab Sidoarjo dalam memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
"Pengelolaan sampah plastik ini penting. Mulai dari tingkat bank sampah sampai tingkat TPS 3R harus benar-benar kita perkuat dan memiliki komitmen yang besar," kata Subandi.
Melalui sinergi antara Pemkab Sidoarjo, GIZ, dan Pemerintah Jerman, program ini diharapkan dapat menghadirkan inovasi baru dalam mengurangi beban lingkungan sekaligus memberikan dampak ekonomi serta sosial bagi masyarakat.(Mec).
