Tri Wahyuni, S.Ag saat menjadi MC Pra Acara Tasyakuran & Pelepasan Siswa MTs YPM 1 Wonoayu, Sabtu (6/6/2026).
Terasdelta.com - Menjadi seorang pembawa acara atau Master of Ceremony (MC) yang andal tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan jam terbang tinggi, mental baja, dan persiapan yang matang untuk bisa Menghidupkan sebuah acara. Prinsip profesionalisme inilah yang dipegang teguh oleh Tri Wahyuni, S.Ag., guru MTs YPM 1 Wonoayu, Sidoarjo.
Sosok yang akrab disapa Bu Tri ini membagikan resep suksesnya saat dipercaya menjadi MC pra-acara dalam agenda pelepasan dan selebrasi kreativitas siswa kelas IX di sebuah MTs baru-baru ini. Bagi Bu Tri, panggung MC adalah ruang pembuktian totalitas.
"Naik panggung tanpa persiapan, bersiap-siaplah turun tanpa penghormatan," tegas Bu Tri, mengungkapkan jargon penting yang selalu ia pegang sebelum memandu acara, Sabtu (6/6/2026).
Profesionalisme Bu Tri telah teruji melalui jam terbangnya yang lintas sektoral. Selain aktif memandu acara di lingkungan madrasah, ia juga kerap dipercaya menjadi pemandu acara di berbagai perhelatan, mulai dari acara pernikahan (wedding), seminar nasional, hingga pengajian akbar.
Menurut guru pengampu mata pelajaran Al-Qur'an Hadist (Qurdis) dan Kecakapan Penerapan Ibadah (KPI) ini, ada tiga pilar utama untuk menjadi MC profesional yakni kepercayaan diri yang tinggi. Modal utama untuk menguasai panggung dan audiens yang beragam.
"Penguasaan materi, memahami esensi acara agar jalannya narasi tetap terarah dan tidak membosankan. Seorang MC harus cerdas membedakan gaya bahasa dan intonasi antara acara formal dan non-formal," ujarnya.
Menghidupkan Suara, Menjaga Kesan Acara
Kemampuan adaptasi intonasi ini dibuktikannya dalam acara pelepasan siswa MTs tersebut.
Mengingat acara ini dihadiri oleh jajaran guru, wali murid, dan siswa, Bu Tri mampu memadukan kesan formal yang khidmat dengan nuansa non-formal yang penuh selebrasi kegembiraan.
Harapannya tidak main-main, melalui panduan suaranya, ia ingin momen kelulusan ini berjalan lancar dan meninggalkan kesan mendalam (good impression) baik bagi siswa, wali murid, maupun rekan sesama guru.
Bagi Bu Tri, acara pelepasan ini adalah momentum sakral. Ini adalah bentuk syukur atas keberhasilan siswa melampaui masa belajar 3 tahun, sekaligus panggung bagi anak-anak untuk tampil percaya diri menunjukkan kreativitas di depan publik sebelum diserahterimakan kembali kepada orang tua untuk lanjut ke jenjang berikutnya.
Dari atas panggung, Tri Wahyuni, S.Ag. tidak sekadar membaca susunan acara, ia sedang mencontohkan langsung kepada anak didiknya tentang apa itu rasa percaya diri dan profesionalisme kerja yang sesungguhnya. (Sam Arif).
