Sidoarjo.Terasdelta - Masyarakat Sidoarjo diimbau untuk lebih berhati-hati terhadap modus penipuan yang mencatut nama pejabat publik. Kali ini, nama Bupati Sidoarjo, Subandi, diduga disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk melakukan aksi pemerasan.
Kejadian ini dialami oleh Dodi Dhiyauddin, Ketua Lazisnu PCNU Sidoarjo. Dodi menceritakan kronologi percobaan penipuan tersebut yang bermula dari sebuah pesan WhatsApp (WA). Selasa ( 3/3/26 ).
Dodi menerima pesan singkat dari nomor tak dikenal yang mengaku sebagai asisten Bupati Sidoarjo bernama "Pak Diky". Pukul 11.15 WIB: Ia menerima telepon langsung dari seseorang yang mengaku sebagai Bupati Subandi.
Pelaku meminta Dodi untuk menjauh dari keramaian dan berbicara secara rahasia. Dalam percakapan tersebut, pelaku meminta bantuan dana sebesar Rp50 juta untuk keperluan pribadi.
Beruntung, Dodi tidak langsung percaya. Ia mencium gelagat mencurigakan setelah menemukan beberapa kejanggalan mulai Suara dan Logat berbeda dengan suara asli Bupati Subandi. Pelaku memiliki logat luar Sidoarjo yang kental.
Pelaku mengirimkan nomor rekening melalui WA, namun nama pemilik rekening tersebut bukan atas nama Bupati maupun instansi resmi Yaitu atas nama Della Pujianti (BRI).
Saat pelaku mencoba meyakinkan melalui video call, ia tidak berani menunjukkan wajahnya di kamera.
"Alhamdulillah saya selamat dan tidak sempat mentransfer uang tersebut," ujar Dodi.
Sementara itu, dari informasi tersebut Bupati Sidoarjo, H. Subandi, S.H., M.Kn., mengeluarkan imbauan keras kepada seluruh masyarakat Sidoarjo untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap aksi penipuan yang kian marak. Modus penipuan tersebut dilakukan dengan mencatut nama dan foto profil dirinya untuk meminta sejumlah uang melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp maupun telepon.
Dalam keterangannya, Subandi menegaskan bahwa nomor yang digunakan oleh pelaku bukanlah nomor aslinya. Meskipun pelaku menggunakan foto profil Bupati, nomor tersebut dipastikan palsu dan digunakan untuk kepentingan tindak kejahatan.
Subandi menjelaskan bahwa para pelaku biasanya melancarkan aksi dengan menjanjikan bantuan dari pemerintah, lalu ujung-ujungnya meminta korban untuk mentransfer sejumlah uang.
"Kami mengimbau seluruh masyarakat Sidoarjo, jangan mudah percaya jika ada telepon atau WhatsApp yang mengatasnamakan Bupati. Apalagi jika meminta transfer uang dengan alasan biaya administrasi bantuan atau lainnya," ujar Subandi.
Beliau menekankan bahwa mekanisme pemberian bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo selalu melalui prosedur resmi.
"Kalau ada bantuan pemerintah, itu pasti menggunakan mekanisme proposal resmi. Tidak ada bantuan yang diberikan tanpa prosedur jelas, apalagi sampai meminta uang kepada masyarakat," tegasnya.
Mengingat momen mendekati Idulfitri, Subandi memperingatkan bahwa aksi penipuan semacam ini biasanya cenderung meningkat. Ia berharap masyarakat lebih teliti dan tidak ragu untuk melakukan konfirmasi melalui jalur resmi jika menerima pesan mencurigakan.
"Jangan sampai tertipu lagi. Gunakan HP dengan bijak dan selalu kroscek kebenarannya. Semoga hal ini tidak terjadi lagi pada masyarakat kita," tutupnya. terjadi lagi pada masyarakat kita," tutupnya.( Mec ).
.jpg)