Sidoarjo.Terasdelta — Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) KH Mukmin Sidoarjo kembali menunjukkan komitmennya dalam membentuk generasi muda yang kreatif sekaligus peduli lingkungan. Sekolah dasar ini menggelar acara tahunan bertajuk Special Day dengan tema "Seni Beraksi, Budaya Lestari, Bumi Terjaga" pada Kamis (11/6/2026).
Acara yang berlangsung meriah di halaman madrasah tersebut diikuti oleh seluruh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6, serta melibatkan peran aktif dari paguyuban wali murid.
Kepala MINU KH Mukmin Sidoarjo, Hj. Anis Faridah, M.Pd., menjelaskan bahwa esensi utama dari agenda tahunan ini adalah mengenalkan keragaman budaya Nusantara kepada anak-anak sejak usia dini melalui pendekatan yang interaktif.
"Tahun ini kami mengangkat kekayaan budaya dari tiga provinsi besar, yaitu Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Sulawesi Selatan. Tujuannya agar anak-anak bisa lebih mengenal, mencintai, dan melestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia melalui kreativitas mereka sendiri," ujar Anis.
Ada hal berbeda yang menonjol pada gelaran bazar tahun ini. Pihak madrasah secara ketat menerapkan konsep ramah lingkungan (eco-friendly). Langkah ini diambil sebagai aksi nyata sekolah dalam mengedukasi siswa untuk menekan angka produksi sampah plastik sekali pakai.
Anis menekankan bahwa pendidikan lingkungan hidup tidak boleh hanya berhenti sebagai teori di dalam ruang kelas, melainkan harus dipraktikkan langsung dalam sebuah ekosistem kegiatan.
"Yang membedakan dengan tahun lalu, kali ini kami lebih menekankan pada kepedulian terhadap lingkungan. Kami menginstruksikan agar kemasan makanan seminimal mungkin menggunakan bahan yang tidak ramah lingkungan. Bahkan, dekorasi stan banyak yang memanfaatkan limbah plastik bekas yang diolah kembali," imbuh Anis.
Konsep gotong royong juga terlihat kuat dalam persiapan acara yang melibatkan 588 siswa ini. Paguyuban wali murid berkolaborasi aktif dengan siswa kelas 3, 4, dan 5 untuk menyusun konsep stan, dekorasi daur ulang, hingga penyediaan menu kuliner. Sementara siswa kelas 1 dan 2 turut menyemarakkan dengan pameran hasil karya pembelajaran mereka.
Pantauan di lokasi menunjukkan antusiasme tinggi dari para siswa yang mengenakan pakaian adat masing-masing daerah. Stan-stan bazar pun disulap menyerupai rumah tradisional yang estetis.
Tak hanya visual, para siswa juga fasih menjajakan dan menjelaskan filosofi kuliner tradisional yang mereka jual kepada para pengunjung.
Zahra, siswi kelas 5 yang menjaga stan Jawa Timur, dengan percaya diri menawarkan menu-menu lokal. "Kami jualan makanan khas Jawa Timur. Ada getas, kue cucur, nasi bebek Madura, sampai kupang," kata Zahra.
Di stan lain, duet siswa kelas 5, Nizam dan Helmi, tampil kompak mengenakan pakaian adat Sulawesi Selatan. Mereka menawarkan hidangan andalan Makassar yang rupanya sangat diminati pengunjung. "Kami jualan Coto Makassar, buras (burasa), jalangkote, sama es pisang ijo," tutur mereka.
Sementara itu, Akil dan kelompoknya yang mengelola stan Sumatera Barat tidak kalah saing. Mereka menyediakan kudapan segar dan lauk ikonik khas Minang. "Di sini saya banyak jualan. Ada es lilin, es krim, ayam pop, dan juga keripik balado," ungkap Akil.
Bagi para siswa, bazar kebudayaan berkelanjutan ini bukan sekadar ajang unjuk bakat atau transaksi jual beli, melainkan ruang belajar terbuka yang menyenangkan. Melalui momentum ini, MINU KH Mukmin Sidoarjo berharap dapat melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas secara akademik, berkarakter kuat, cinta tanah air, sekaligus aktif menjaga kelestarian bumi. (Mec).
