Notification

×

Iklan

Iklan

Ketua BPPPNU Grabagan: Pendidikan Harus Sinergikan Fisik, Ruh, dan Akal untuk Hadapi Tantangan Zaman

Minggu, 21 Juni 2026 | Juni 21, 2026 WIB Last Updated 2026-06-21T15:21:52Z
Ketua BPPPNU Grabagan Tulangan, Dr. M. Hamim Thohari, S.Pd., M.M., dalam sambutannya pada acara Farewell Celebration (acara perpisahan), Minggu (21/6/2026). 

Terasdelta.com – Lembaga pendidikan Islam di tingkat dasar dituntut untuk terus berinovasi dan melahirkan lulusan yang memiliki keunggulan kompetitif agar mampu bertahan di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan ketatnya persaingan global.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua BPPPNU Grabagan Tulangan, Dr. M. Hamim Thohari, S.Pd., M.M., dalam sambutannya pada acara Farewell Celebration (acara perpisahan) gabungan yang digelar oleh Kelompok Bermain (KB), Raudhatul Athfal (RA), dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Ulum Bilingual School (NBS) Grabagan. Acara tersebut berlangsung di Auditorium KH. Bisri Syansuri, Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Tulangan, Sidoarjo, pada Minggu (21/6/2026).

Mengutip kitab karya Ibnu Khaldun, Dr. Hamim menekankan bahwa pendidikan yang paripurna harus menyentuh tiga aspek utama secara bersinergi ketika menerima transfer of knowledge dari para guru, diantaranya kesehatan fisik, menjadi fondasi utama. Fisik anak harus sehat dan disiplin agar penyerapan materi pelajaran bisa berjalan maksimal.

Penanaman nilai spiritual (Ruh). Nilai spiritual tidak sekadar diajarkan, melainkan dijadikan pembiasaan berkelanjutan (sustainable), seperti istighosah, shalat dhuha berjamaah, membaca Asmaul Husna, hingga program tahfidz Al-Qur'an. Kontinuitas ini diharapkan tetap terjaga meski anak berada di rumah.

Selain itu, pengembangan intelektual (Akal). Dibentuk melalui keseimbangan Ilmu Naqliyah (wahyu/agama) dan Ilmu Aqliyah (ilmu pengetahuan umum).

"Pelaku-pelaku di lapangan adalah kaptennya, yaitu kepala sekolah, kepala madrasah, kepala RA, dan kepala PAUD. Saya bertugas memberikan motivasi dan mengarahkan agar ketiga aspek ini bersinergi dengan baik," ujar Hamim.

Dalam kesempatan tersebut, Hamim memaparkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat jumlah pengangguran lulusan S1 hingga S3 di Indonesia mencapai 1.010.652 orang (berkisar 6,23% hingga 6,5% dari total pengangguran nasional). Menurutnya, hal ini dipicu oleh dua faktor utama: ketidaksesuaian keahlian (mismatch) dan kurangnya keahlian kompetitif.

Sebagai solusi, ia menginstruksikan agar generasi muda saat ini wajib menguasai tiga pilar kompetensi masa depan:
 1. Matematika dan Sains
 2. Ilmu Sosial dan Bahasa Inggris
 3. Coding dan AI (Artificial Intelligence) yang berpotensi menjadi sumber passive income.

Untuk membangun lembaga dan lulusan yang berada di atas rata-rata, Hamim mengenalkan strategi "lima langkah" yang bertumpu pada Nilai Lebih, Keunggulan Kompetitif, serta Evaluasi dan Perbandingan.

Penerapan nyata dari strategi ini telah diimplementasikan di MI Nurul Ulum (NBS) melalui muatan kurikulum yang progresif: Penerapan Bahasa Inggris setiap hari.
Pelajaran coding dua kali seminggu untuk kelas 5 dan 6. Porsi pelajaran Matematika (8 jam) dan Sains (8 jam) per minggu. Penerapan Kurikulum Internasional secara resmi sejak kelas 1 melalui ujian Center Progression Test dari Cambridge.

"Meskipun letaknya di desa, kemampuan anak-anak kita tidak hanya dikomparasikan di Indonesia saja, tetapi disejajarkan dengan seluruh siswa sekolah Cambridge di seluruh dunia, setara dengan sekolah-sekolah bonafid lainnya," tegasnya mengacu pada teori growth mindset Carol Dweck dan teori adaptasi seleksi alam Charles Darwin.

Guna menjaga kontinuitas kurikulum agar ilmu yang didapat tidak hilang, Hamim menyarankan para wali murid untuk melanjutkan pendidikan putra-putrinya ke MTS NBS. Selain menerapkan program bilingual dan coding, MTS NBS memiliki keunggulan pada sore hari berupa kajian kitab salaf (kitab kuning) seperti Mabadi Fiqih, Wasiyatul Mustofa, hingga ilmu nahwu shorof lewat Jurumiyah dan Alfiyah. Saat ini, MTS NBS juga tengah bersiap melaksanakan akreditasi untuk mendapatkan nilai A.

Sebelum mengakhiri sambutan dengan sebuah pantun, Dr. Hamim Thohari melakukan uji kompetensi langsung di panggung kepada perwakilan siswa dari tim Bahasa Inggris dan Tahfidz untuk membuktikan kualitas lulusan MI NBS di hadapan para hadirin. (Sam Arif). 
×
Berita Terbaru Update