Notification

×

Iklan

Iklan

Kursi Bupati dan Mimpi Generasi Emas dari MINU KH Mukmin Sidoarjo

Rabu, 17 Juni 2026 | Juni 17, 2026 WIB Last Updated 2026-06-17T14:14:59Z
Fatimah Nasyitha, siswi MINU KH Mukmin Sidoarjo, saat foto bersama dengan Bupati Sidoarjo, H. Subandi, S.H., M.Kn., di ruang kerjanya, Jl. Gubernur Suryo No. 1, Gajah Timur, Magersari, Rabu (17/6/2026). 

Terasdelta.com – Ruang kerja Bupati Sidoarjo mendadak riuh oleh tawa polos dan binar mata yang penuh rasa ingin tahu pada Rabu (17/6/2026) siang. Hari itu, protokoler kedinasan yang biasanya kaku mencair seketika. Kursi empuk nomor satu di pemerintahan kabupaten tersebut bergantian diduduki oleh anak-anak berusia 12 tahun.

Sekitar 7 siswa-siswi Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) KH Mukmin Sidoarjo, didampingi kepala madrasah dan guru mereka, datang bukan sekadar untuk berkunjung. Mereka membawa "Suara Masa Depan" dalam bentuk sebuah buku kompilasi literasi berjudul “Surat untuk Bupati”. Buku tersebut merupakan buah karya murni dari seluruh siswa kelas 6 yang berisi potret Sidoarjo hari ini dan harapan mereka di masa depan.

​Di hadapan Bupati Sidoarjo, H. Subandi, S.H., M.Kn., anak-anak ini menjelma menjadi "wakil rakyat" cilik. Tanpa rasa canggung, mereka menyampaikan aspirasi langsung dari sudut pandang seorang anak. Mulai dari urusan infrastruktur, jalan berlubang, keindahan Alun-Alun Sidoarjo, ketersediaan beasiswa, kebutuhan kamera CCTV demi keamanan kota hingga ungkapan terima kasih atas dedikasi dan kinerja Bupati dalam pembangunan di kabupaten Sidoarjo. 

Salah satu momen paling menyentuh terjadi saat Fatimah Nasyitha, salah seorang siswi, menceritakan isi surat yang ditulisnya mengenai kondisi jalan berlubang dan minimnya penerangan di sekitar tempat tinggalnya di Perumahan Bumi Citra Fajar.

​Mendengar keluhan jujur tersebut, Bupati Subandi tidak hanya memberikan jawaban solutif bahwa pihak pengembang dan dinas terkait akan diminta segera melakukan perbaikan, tetapi ia juga memberikan sebuah dorongan moral yang tak ternilai.

​"Senang sekali dan bangga, ini pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan," tutur Fatimah dengan mata berbinar. "Tadi saya diberikan motivasi untuk semangat belajar dan kerja keras. Bahkan, Bapak Bupati memanggil dan mendoakan saya sebagai 'Ibu Dokter Anak'. Cita-cita saya memang ingin menjadi dokter spesialis anak. Panggilan itu langsung saya aminkan dalam hati."


​Bagi Fatimah dan kawan-kawannya, respons ramah dari orang nomor satu di Sidoarjo itu adalah bahan bakar baru bagi semangat belajar mereka.

Bupati Sidoarjo, H. Subandi, S.H., M.Kn., menyambut kehadiran para generasi penerus ini dengan tangan terbuka. Baginya, aspirasi anak-anak adalah alarm pengingat sekaligus cermin kejujuran bagi jalannya pemerintahan. Lebih dari itu, Subandi melihat mereka sebagai aset berharga Indonesia Emas 2045.

​"Kalau sekarang anak-anak berusia 12 tahun, 20 tahun ke depan siapa tahu dari kalian akan menjadi pemimpin di bangsa ini yang datang dari Sidoarjo. Semoga cita-cita kalian tercapai," ujar Bupati Subandi tulus, sembari memberikan wejangan agar mereka terus merajut mimpi setinggi langit.

​Kesempatan langka pun diberikan. Bupati mempersilakan anak-anak tersebut secara bergantian merasakan duduk di kursi kerjanya. Sebuah gestur sederhana, namun menyimpan pesan simbolis yang mendalam: suatu saat, tongkat estafet kepemimpinan ini akan berada di tangan mereka.

​Bagi Bupati Subandi, jabatan yang diembannya saat ini bukanlah sebuah prestise, melainkan sebuah tanggung jawab besar yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan Tuhan.

​"Jabatan adalah titipan dari Allah SWT yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Maka kami pun, bersama-sama dengan Wakil Bupati, terus berkomitmen untuk mewujudkan hal itu demi memimpin Sidoarjo menjadi lebih baik lagi," tegas Subandi.

Kepala MINU KH Mukmin Sidoarjo, Anis Faridah, M.Pd., tidak dapat menyembunyikan rasa haru dan syukurnya atas sambutan hangat yang diberikan pihak kabupaten.

​"Alhamdulillahi rabbil alamin, kami sangat senang dan bangga. Beliau menyambut kami dengan sangat ramah dan welcome. Apa yang ditulis anak-anak di buku literasi mereka langsung dijawab dan ditindaklanjuti," kata Anis.


​Anis menambahkan bahwa kunjungan ini bukan sekadar penyerahan karya literasi, melainkan sebuah laboratorium interaksi sosial yang nyata bagi anak didiknya.

​"Ini menjadi motivasi luar biasa. Anak-anak pulang dengan membawa bekal ilmu dan teladan nyata. Harapan kami, saat Indonesia Emas nanti mereka tumbuh menjadi pemimpin yang arif, bijaksana, dan selalu terbuka mendengar suara rakyatnya, persis seperti contoh yang mereka lihat dari Bapak Bupati hari ini," pungkasnya.

​Hari itu, di ruangan penuh berkas negara tersebut, sebuah buku telah diserahkan, keluhan warga cilik telah didengarkan, dan yang terpenting, benih-benih pemimpin masa depan telah resmi ditanam. (Sam Arif). 
×
Berita Terbaru Update