Terasdelta.com – Dalam rangka mewujudkan generasi yang kreatif dan berani tampil di depan publik, Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) KH. Mukmin Sidoarjo menggelar acara bertajuk English Performance. Mengusung tema "Exploring Creativity and Confidence", pertunjukan seni ini diselenggarakan secara megah di Luminor Hotel Sidoarjo pada Selasa (9/6/2026).
Acara ini secara khusus menampilkan bakat-bakat memukau dari 33 siswa kelas dua yang tergabung dalam kelas bilingual, The Second Grade of Al-Faraby. Berbeda dari metode pembelajaran bahasa pada umumnya, MINU KH. Mukmin memilih pendekatan yang interaktif dan menyenangkan, yakni melalui pertunjukan drama musikal (Musical Drama Performance).
Melalui media ini, para siswa tidak hanya ditantang melatih kemampuan berbicara bahasa Inggris (speaking skill), tetapi juga diasah kepekaan seni, ekspresi, serta kerja samanya di atas panggung.
Kepala MINU KH. Mukmin Sidoarjo, Anis Faridah, M.Pd., menjelaskan, agenda English Performance merupakan panggung khusus yang diperuntukkan bagi kelas bilingual sebagai momentum unjuk perkembangan belajar di akhir tahun.
"Jadi di akhir tahun, ananda akan memperformkan kepada orang tuanya kemampuannya selama satu tahun belajar di madrasah," ujar Anis Faridah saat ditemui di lokasi acara.
Anis melanjutkan, penampilan anak-anak kali ini sengaja dikemas dalam bentuk drama musikal. Melalui metode ini, madrasah tidak hanya ingin mengukur sejauh mana kemampuan bahasa Inggris siswa tersampaikan kepada orang tua, tetapi juga melatih kepercayaan diri tampil di depan umum, serta mengasah kemampuan memahami berbagai karakter lewat kerja sama tim.
"Nah, ini menjadi hal yang menyenangkan karena harapannya dengan adanya English Performance ini, kemampuan ananda untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dan kemampuan untuk dia seni, itu bisa terwujud dalam satu pentas yang kita usung hari ini," tambahnya.
Alur cerita drama yang dibawakan pun disesuaikan dengan psikologi perkembangan anak usia kelas 2 sekolah dasar.
Pementasan tersebut mengangkat kisah tentang kegigihan sekelompok siswa di kelas dalam mengikuti sebuah perlombaan seni. Menariknya, para siswa ditantang memainkan beragam karakter yang dinamis, mulai dari karakter anak yang minder (kurang percaya diri), sangat percaya diri, hingga karakter yang sombong karena merasa pasti menang.
Melalui variasi karakter tersebut, pihak madrasah ingin menyelipkan pesan moral yang mendalam bagi seluruh siswa yang terlibat maupun yang menonton.
"Hal ini nanti pengen kita tunjukkan kepada anak-anak bahwa kita harus percaya diri dan terus berusaha untuk bisa mencapai cita-cita. Tapi ingat, apa yang kita lakukan tetap harus dengan akhlak yang baik. Jangan sampai karena kita mungkin terlalu percaya diri, sehingga sifat sombong itu akhirnya lebih dominan," tegas Anis Faridah.
Sesuai dengan visinya "Mendidik Berlandaskan Aswaja", MINU KH. Mukmin Sidoarjo terus berkomitmen mengintegrasikan nilai-nilai karakter Islami dan Ahlussunnah wal Jama'ah dengan keterampilan global di era modern. Selain mengasah kepekaan seni dan bahasa, Anis juga menekankan pentingnya menumbuhkan jiwa kolaboratif sejak dini. Menurutnya, di era modern ini kompetisi adalah hal lumrah, namun kemampuan untuk bekerja sama jauh lebih utama.
"Yang tidak kalah penting adalah kerja tim. Karena dari awal, anak-anak ini kita bangun untuk bisa berkolaborasi antara satu teman dengan teman yang lainnya. Menurut kami, itu adalah kemampuan yang harus kita berikan pada generasi sekarang. Bahwa kompetisi boleh, artinya berlomba boleh, tapi kolaborasi dan kerja sama itu juga harus tetap kita tanamkan kepada anak-anak kita. Sehingga melalui drama ini, dua hal itu benar-benar bisa kita berikan sejak dini," pungkasnya.
Aksi menggemaskan sekaligus memukau dari para siswa ini sukses membuat suasana ruangan menjadi cair dan penuh tawa. Puluhan orang tua yang hadir dibuat terpukau hingga berulang kali memberikan tepuk tangan riuh (applause) di sepanjang acara.
Apresiasi mendalam salah satunya datang dari Wahyu, orang tua dari Kenes Alisha, salah satu siswi yang tampil. Ia mengaku sangat bangga melihat perkembangan kemampuan bahasa Inggris anaknya yang melesat pesat sejak awal masuk madrasah.
"Sebagai orang tua, perkembangan anak tidak saya lihat sebagai produk saja, melainkan bagian dari proses perkembangan anak itu sendiri. Dari awal masuk sampai sekarang, alhamdulillah perkembangan bahasa Inggrisnya bagus dan pesat. Kalau dibuat tontonan, ini tidak kurang-kurang, dan anak-anak luar biasa perkembangannya. Tidak terbayang anak kelas 2 MI bisa tampil drama menggunakan bahasa Inggris, itu luar biasa," ungkap Wahyu dengan nada kagum.
Wahyu juga menambahkan, peningkatan kualitas performance tahun ini terlihat sangat signifikan dibandingkan tahun lalu, yang baru sebatas promosi produk dan menyanyi. Perubahan ke ranah drama ini dinilainya sebagai progres yang positif bagi tumbuh kembang anak. Bahkan, kebiasaan tersebut mulai terbawa ke lingkungan rumah.
"Idealnya di rumah tetap mengucapkan bahasa Inggris. Kadang juga di rumah kita menggunakan bahasa Indonesia, anak langsung mengartikannya ke bahasa Inggris," ceritanya.
Ia pun berharap tren positif ini bisa terus dijaga tanpa memberikan ekspektasi yang berlebihan, karena otak anak tetap membutuhkan ruang tumbuh yang natural.
"Harapannya terus dijaga perkembangan ini. Tidak ekspektasi berlebihan juga, otaknya juga butuh perkembangan positif dan ada peningkatan penampilan. Mau goalsnya di mana, yang penting kemampuan anak itu naik terus secara bertahap dan tidak harus melompat. Terlihat sekali dari progresnya," tutup Wahyu. (Sam Arif).


